Push Up Tes Polri Bikin Nol Hitungan? Cek Rahasianya!

Push Up Tes Polri Bikin Nol Hitungan? Cek Rahasianya!

Push Up Tes Polri – Buat calon Akpol, Bintara, dan Tamtama, push up tes polri hampir selalu menjadi “penyaring” utama di tahap Kesamaptaan Jasmani. Di atas kertas terlihat sederhana: hanya 1 menit dan hanya gerakan naik turun. Namun di lapangan, banyak casis yang kaget karena repetisi yang ia kira “lulus” ternyata tidak dihitung sama sekali oleh penguji. Di era seleksi CASN, BUMN, dan rekrutmen ketat seperti sekarang, kemampuan fisik yang terukur dan terstandar seperti ini jadi pembeda besar antara yang sekadar ikut tes dan yang benar-benar siap masuk Polri. Di dalam rangkaian Tes Kesamaptaan Jasmani Polri, push up berdiri sejajar pentingnya dengan lari 12 menit, sit up, pull up atau chinning, shuttle run, dan renang. Untuk rekrutmen umum maupun pendidikan khusus seperti Brimob, push up menjadi indikator utama kekuatan dan daya tahan otot tubuh bagian atas dan core. Secara teknis, push up tes polri adalah tes kekuatan dan ketahanan otot dengan format sangat spesifik: kamu diminta melakukan sebanyak mungkin repetisi push up yang sempurna dalam waktu tepat 1 menit. Bukan 58 detik, bukan 1 menit 5 detik. Hanya gerakan yang memenuhi standar teknik yang akan dihitung. Inilah yang sering menjebak: rasa capek sudah maksimal, tetapi angka di papan penilaian tidak sesuai harapan. Di beberapa sumber pelatihan masuk Polri, target minimal yang sering dijadikan patokan adalah sekitar 35 repetisi untuk casis laki-laki dan 30 repetisi untuk casis perempuan. Angka ini bisa berubah tergantung gelombang, panitia, dan satuan tujuan, misalnya Brimob yang biasanya cenderung lebih ketat. Artinya, kamu tidak bisa hanya mengandalkan “asal kuat push up”, tetapi harus paham standar resmi dan berlatih sesuai itu. Menariknya, dalam beberapa penelitian di kampus teknik dan teknologi di Indonesia, sudah mulai dikembangkan sistem sensor otomatis untuk menghitung jumlah push up casis secara lebih objektif. Ini menunjukkan bahwa ke depannya, setiap detail teknik bisa saja dinilai lebih presisi lagi. Justru karena itu, memahami teknik yang benar sejak sekarang adalah investasi penting. Detail Standar Push Up Tes Polri: Dari Posisi Tubuh Sampai Cara Dinilai Supaya kamu tidak “kecelek” saat tes, kita bedah dulu seperti apa sebenarnya standar push up di seleksi Polri. Anggap ini sebagai “buku pedoman kecil” yang harus kamu lekatkan di kepala saat latihan harian. 1. Durasi: Hanya 1 Menit, Setiap Detik Berharga Durasi push up dalam tes Polri umumnya adalah 1 menit. Kedengarannya sebentar, tetapi dalam dunia latihan fisik, 60 detik dengan intensitas maksimal adalah waktu yang sangat menguras tenaga. Hal yang perlu kamu garis bawahi: – Waktu dihitung mulai dari aba-aba penguji.– Kamu boleh bergerak secepat mungkin, selama tetap sesuai teknik.– Jika kamu berhenti sebelum waktunya habis, misalnya kamu sudah tidak kuat di detik ke 45 dan memilih “pasrah”, maka sisa waktu tidak dimanfaatkan dan potensi tambahan repetisi hilang begitu saja. Banyak casis yang menyesal setelah tes karena menyadari bahwa mereka bisa menambah 2–3 repetisi jika tidak berhenti terlalu cepat. Di sinilah pentingnya simulasi latihan dengan stopwatch, bukan hanya latihan sebatas “kira-kira 1 menit”. 2. Posisi Dasar: Tumpuan Lengan dan Kaki atau Lutut Untuk casis laki-laki, posisi standar: – Tangan bertumpu di lantai, selebar kurang lebih bahu atau sedikit lebih lebar, telapak menempel kuat di lantai.– Tumpuan kaki pada ujung jari kaki.– Badan lurus dari kepala sampai tumit. Untuk casis perempuan, sering diberlakukan modifikasi: – Tangan tetap bertumpu seperti di atas.– Tumpuan bawah bukan pada jari kaki, tetapi pada lutut.– Dari kepala sampai lutut tetap harus membentuk garis lurus. Catatan penting: walaupun ada perbedaan titik tumpu antara laki-laki dan perempuan, prinsip umum tetap sama, yaitu: – Tubuh harus stabil.– Tidak boleh ada bagian tubuh lain yang menyentuh lantai selain titik tumpu yang diizinkan.– Gerakan harus terkendali, tidak asal menghentak atau menjatuhkan badan. Jika saat latihan kamu masih sering goyang, pantat naik turun sendiri, atau bahu jatuh duluan, itu tanda bahwa core (otot perut, punggung bawah, dan pinggul) kamu perlu diperkuat. 3. Teknik Turun: Dada dan Pantat Turun Bersamaan Ini salah satu poin yang paling sering membuat repetisi tidak dihitung. Pada fase turun: – Dari posisi awal lengan lurus, kamu menekuk siku secara terkendali.– Badan diturunkan hingga mendekati lantai, tetapi tidak menyentuh lantai.– Idealnya, dada mendekati lantai sampai jarak tertentu, tergantung panduan penguji di lapangan.– Yang sangat ditekankan: dada dan pantat harus turun secara bersamaan, tetap dalam satu garis lurus. Jika pantat turun duluan sehingga pinggul lebih rendah dari dada, penguji biasanya akan menganggap bentuk ini salah. Begitu juga jika dada masih tinggi sementara pinggul sudah “tenggelam” ke bawah, tubuh terlihat bengkok dan gerakan sering tidak dihitung. Kamu perlu melatih diri di depan cermin atau dengan bantuan teman untuk memastikan dari samping tubuhmu benar-benar membentuk garis lurus. Banyak bimbel Polri dan pelatihan khusus yang mencontohkan posisi ini secara visual di video, dan latihan menirukan video secara perlahan akan sangat membantu. 4. Teknik Naik: Lengan Harus Lurus Sempurna Setelah posisi terendah tercapai, kamu mendorong tubuh kembali ke posisi awal. Yang dinilai: – Siku kembali lurus sepenuhnya, bukan setengah.– Badan tetap dalam garis lurus saat naik, bukan punggung naik dulu, baru pinggul menyusul.– Gerakan naik dilakukan dengan kontrol, tidak asal menghentak hingga badan “memantul”. Jika kamu hanya menaikkan badan 70–80 persen dan tidak meluruskan siku penuh, ada penguji yang akan tetap menganggap repetisi itu tidak lengkap. Apalagi jika dilakukan berulang-ulang, hitunganmu bisa jauh berkurang dibanding perkiraan. Di sinilah, latihan teknik pelan sangat bermanfaat. Misalnya, kamu bisa melatih 10 repetisi dengan tempo terukur: 2 detik turun, 1 detik diam di bawah, 2 detik naik. Dengan cara ini, form tubuh lebih mudah dibangun sebelum nanti ditingkatkan kecepatannya. 5. Garis Lurus Tubuh: Ini Bukan Sekadar Formalitas Instruksi “kepala sampai tumit atau lutut harus satu garis lurus” bukan teori kosong. Secara biomekanik, garis lurus ini memastikan: – Otot dada, bahu, trisep, dan core bekerja dalam porsi seimbang.– Risiko cedera punggung bawah berkurang.– Gerakan bisa diukur dan distandarkan antar peserta. Dari sudut pandang penguji, garis lurus juga memudahkan penilaian. Jika mereka melihat: – Pinggul turun lebih rendah daripada dada.– Pantat terlalu tinggi, seperti posisi setengah plank.– Kepala menunduk berlebihan atau mendongak terlalu ekstrem. Mereka bisa langsung memberi koreksi atau memutuskan gerakan tersebut tidak layak hitung. Itulah sebabnya dalam beberapa riset,

Sit Up Polri Bikin Gugur? Perbaiki Teknikmu Sekarang!

Sit Up Polri Bikin Gugur? Perbaiki Teknikmu Sekarang!

Sit Up Polri – Jika kamu sedang mempersiapkan diri untuk seleksi Akpol, Bintara, atau Tamtama, latihan sit up polri hampir pasti akan menjadi bagian dari keseharianmu. Di tengah euforia CASN dan rekrutmen BUMN yang juga ramai dibahas, tes kesamaptaan untuk masuk Polri punya karakteristik yang berbeda: menuntut kombinasi kekuatan fisik, daya tahan, dan mental yang stabil. Banyak calon yang kuat lari, tetapi gugur di bagian sit up hanya karena teknik salah atau strategi latihan yang keliru. Di sinilah pemahaman yang benar tentang sit up untuk seleksi Polri menjadi sangat krusial, bukan sekadar kuat otot perut, tetapi juga paham cara dinilai, cara menghemat tenaga, dan cara memaksimalkan setiap detik saat tes. Secara umum, sit up adalah latihan pengkondisian tubuh yang dimulai dari posisi telentang dengan lutut ditekuk. Tubuh bagian atas kemudian diangkat sampai mendekati posisi duduk, lalu kembali ke posisi awal. Gerakan ini bertujuan melatih kekuatan dan daya tahan otot perut, pinggang, serta stabilitas tubuh bagian tengah (core). Dalam banyak tes kepolisian di dunia, termasuk di berbagai kepolisian negara bagian di Amerika Serikat, sit up digunakan sebagai indikator kebugaran dasar. Walaupun tidak ada dokumen resmi terbuka yang menjelaskan secara rinci standar sit up Polri, pola besar tes fisik kepolisian di berbagai negara cenderung mirip. Biasanya: dilakukan dalam durasi waktu tertentu (sering 1 menit), setiap repetisi dinilai sah jika memenuhi kriteria teknis tertentu, dan ada batas minimal jumlah repetisi berdasarkan jenis kelamin dan kelompok usia. Di New York State Police, misalnya, peserta diminta melakukan sit up selama 1 menit, dengan posisi awal telentang, lutut ditekuk, tumit menempel lantai, dan jari tangan saling mengait di belakang kepala. Satu hitungan sah jika siku menyentuh lutut dan punggung bagian atas (tulang belikat) menyentuh lantai saat kembali. Standar minimal bervariasi; untuk laki–laki usia 20 sampai 29 tahun, angka 40 sit up per menit berada di sekitar persentil ke-50. Mengapa ini relevan untukmu yang menyiapkan diri masuk Polri? Karena meskipun standar pastinya mungkin berbeda, prinsip dasarnya sama: kamu harus mampu melakukan sit up dengan teknik yang benar, dalam kecepatan tinggi, dan tanpa kehilangan konsistensi gerakan selama 1 menit penuh atau durasi yang ditentukan panitia Polri. Tes kesamaptaan Polri biasanya mencakup beberapa komponen: lari (12 menit), push up, sit up, pull up/chinning, shuttle run, dan renang, tergantung jalur seleksi dan tahun pelaksanaan. Sit up di sini bukan pelengkap, tetapi salah satu penentu skor. Jika salah satu komponen sangat rendah, nilaimu yang lain harus bekerja sangat keras untuk menutup kekurangannya. Bayangkan dua calon: Calon A lari sangat bagus, tetapi sit up hanya mampu 20 kali dalam 1 menit karena teknik dan napas berantakan; Calon B lari standar, tetapi sit up stabil di kisaran 40 sampai 45 kali dengan teknik yang bersih. Dalam banyak skema penilaian fisik, Calon B sering punya peluang lebih baik secara total, karena nilainya merata dan tidak ada komponen yang terlalu jatuh. Itu sebabnya memahami mekanisme sit up polri lebih penting daripada sekadar *“pokoknya latihan sampai capek”*. Perlu kamu tahu, dalam kamus bahasa Inggris, “sit up” juga punya makna lain: bangun duduk dari posisi berbaring, menunjukkan kewaspadaan, atau tetap terjaga sampai larut malam. Namun, dalam konteks seleksi Polri, istilah ini hampir selalu merujuk pada latihan fisik sit up sebagai bagian dari tes kebugaran, bukan makna kiasan sehari-hari. Fokus kita di sini adalah pada sit up sebagai latihan fisik yang bisa dan harus kamu kuasai untuk menunjang peluang lulus tes kesamaptaan. Teknik Dasar Sit Up Polri: Dari Posisi Hingga Hitungan Sah Banyak peserta tes sebenarnya cukup kuat untuk melakukan puluhan sit up, tetapi kehilangan nilai karena gerakan tidak sah. Di Pakistan, Amerika Serikat, dan banyak institusi kepolisian lain, instruktur memberi penekanan ketat pada aspek teknis: posisi tangan, sudut lutut, sentuhan siku ke lutut, dan sebagainya. Meskipun detail teknis Polri tidak dipublikasikan seperti standar negara lain, belajar dari pola umum kepolisian dunia akan sangat membantumu meminimalkan kesalahan. 1. Posisi Awal: Fondasi Gerakan yang Benar Berikut adalah pola yang sangat umum digunakan dalam tes kepolisian: posisi tubuh telentang di atas matras, lutut ditekuk sekitar 90 derajat, tumit menempel di lantai dan bisa dibuka sedikit tetapi biasanya tidak lebih dari sekitar 30 cm. Pinggul dan bokong menempel di lantai, tidak boleh mengangkat berlebihan untuk “mengayun” tubuh. Untuk posisi tangan, banyak standar kepolisian mewajibkan jari tangan saling berkait atau bersentuhan di belakang kepala atau leher. Di beberapa tes, jari tidak boleh terlepas sama sekali, bahkan ada yang menekankan bahwa jari kelingking harus tetap bersentuhan. Menarik kepala dengan tangan dilarang, karena berisiko cedera leher dan dinilai sebagai teknik buruk. Jika Polri menerapkan pola serupa, maka membiasakan diri dengan posisi tangan yang disiplin akan membantu. Hindari kebiasaan menyentuh dada atau menyilang tangan di dada saat latihan, bila kemungkinan besar tes resmi menuntut posisi tangan di belakang kepala. Untuk posisi kaki, pada banyak tes internasional, kaki peserta dipegang oleh petugas atau rekan pada bagian pergelangan kaki agar tumit tetap menempel lantai. Tumit tidak boleh terangkat selama melakukan repetisi. Mengangkat tumit dianggap sebagai upaya “mengayun” bukan mengangkat dengan kekuatan otot perut. Latihan harianmu sebaiknya meniru kondisi tes ini. Minta teman atau anggota keluarga memegang kakimu, sehingga tubuh terbiasa dengan stabilitas dan tekanan yang serupa. 2. Gerakan Naik: Kapan Hitungan Baru Dianggap Sah? Tes sit up kepolisian biasanya sangat spesifik: satu repetisi sah hanya jika kriterianya terpenuhi. Berdasarkan standar kepolisian di beberapa negara bagian di Amerika, garis besarnya seperti ini: dari posisi telentang, kamu mengangkat tubuh dengan kontraksi otot perut, lalu siku harus menyentuh lutut atau melewati titik tertentu di atas lutut. Di beberapa protokol, cukup jika siku melewati bagian tengah lutut, di yang lain harus benar-benar menyentuh lutut. Kalau nanti di pelaksanaan resmi Polri ada instruksi khusus, misalnya “siku menyentuh paha” atau “siku menyentuh lutut”, kamu wajib menaatinya. Namun, untuk latihan, biasakan standar yang ketat: upayakan siku benar-benar menyentuh lutut. Dengan begitu, kalau saat tes kamu sedikit kurang sempurna, kemungkinan gerakanmu masih masuk kategori sah. 3. Gerakan Turun: Kembali Penuh, Bukan Setengah Kesalahan umum peserta adalah hanya turun setengah jalan untuk mengejar kecepatan. Di banyak tes polisi, punggung bagian atas sampai tulang belikat harus menyentuh lantai setiap kali kembali ke posisi awal. Leher dan

Pangkat bintara Brimob: karier keras tapi bergengsi!

Pangkat bintara Brimob: karier keras tapi bergengsi!

Banyak calon peserta seleksi Polri penasaran, sebenarnya seperti apa sih pangkat bintara Brimob, tugasnya, dan bagaimana alur kariernya? Rasa ingin tahu ini wajar, apalagi di tengah ketatnya persaingan seleksi CASN, BUMN, dan juga Penerimaan Anggota Polri sekarang. Bedanya, kalau jalur CASN atau BUMN diburu karena status pegawai tetap dan gaji, jalur Polri, khususnya Brimob, diburu karena gengsi, kebanggaan, dan tantangan tugas. Memahami struktur pangkat bintara Brimob sejak awal akan membuat kamu lebih fokus saat mempersiapkan diri, karena kamu tahu persis posisi yang akan kamu tempati setelah lulus pendidikan, tugas yang diemban, dan seberapa jauh peluang kariermu ke depan. Di balik seragam hitam khas Brimob, ada struktur pangkat yang ketat dan seragam dengan seluruh Polri. Tidak ada *“pangkat khusus Brimob”*, sehingga semua bintara Brimob mengikuti standar bintara Polri. Informasi ini sering kali keliru di forum atau media sosial. Jika kamu ingin serius tembus seleksi Bintara Brimob, kamu perlu memahami fakta resmi, bukan sekadar mitos. Di sinilah keunggulanmu dibanding pesaing lain: kamu bukan hanya mengejar lulus tes, tetapi juga mengerti jalur karier yang akan kamu jalani selama puluhan tahun ke depan. Apa Itu Bintara Brimob dan Posisi Strategisnya di Polri Sebelum membahas lebih rinci soal pangkat bintara Brimob, kamu perlu paham dulu posisi *“bintara”* dalam struktur kepolisian. Di Polri, termasuk Brimob, jenjang kepangkatan besar dibagi menjadi tiga: tamtama, bintara, dan perwira. Bintara berada di tengah, menjadi penghubung antara perwira sebagai penentu kebijakan dan tamtama sebagai pelaksana paling dasar di lapangan. Dalam satuan Brimob, bintara adalah *tulang punggung operasi*. Di tingkat inilah perintah perwira diterjemahkan menjadi eksekusi nyata di lapangan: mulai dari pengamanan aksi unjuk rasa yang berpotensi ricuh, penindakan terhadap gangguan keamanan berkadar tinggi, hingga operasi penindakan teror, bergantung pada penugasan satuan masing-masing. Karena bersentuhan langsung dengan situasi berisiko tinggi, bintara Brimob identik dengan fisik yang prima, mental tahan tekanan, dan disiplin yang sangat kuat. Salah satu hal penting yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa Brimob punya struktur pangkat sendiri yang berbeda dengan polisi lain. Faktanya, Brimob adalah satuan khusus di bawah Polri, bukan lembaga terpisah. Artinya, semua struktur pangkat, termasuk bintara Brimob, mengikuti Peraturan Kapolri tentang administrasi kepangkatan. Lambang, sebutan pangkat, hingga aturan kenaikan pangkat bintara di Brimob sama dengan bintara di kesatuan Polri lainnya. Di sisi lain, bintara Brimob jelas berbeda dari Bintara PTU (Polisi Tugas Umum) maupun Bintara Bakomsus (Bintara Kompetensi Khusus). Bukan dari nama pangkatnya, melainkan dari lingkup penugasan. Jika Bintara PTU umumnya ditempatkan di fungsi-fungsi umum seperti Sabhara, Lantas, atau Reserse, bintara Brimob diarahkan untuk operasi-operasi yang memerlukan kemampuan tempur kepolisian, penanganan kerusuhan massal, hingga penindakan terhadap ancaman bersenjata tertentu. Karena itulah, memilih jalur Brimob sejak awal bukan hanya soal seragam dan gengsi, melainkan juga kesiapan kamu untuk hidup dalam ritme penugasan yang keras, padat latihan, dan penuh risiko. Di balik itu, kariermu sebagai bintara Brimob juga menawarkan kebanggaan tersendiri, apalagi jika kamu paham jenjang pangkat yang tersedia dan bagaimana cara naik dari satu tingkat ke tingkat berikutnya. Struktur Pangkat dan Alur Karier Bintara Brimob Di dalam golongan bintara Polri, termasuk Brimob, terdapat enam jenjang pangkat. Keenam pangkat ini dibagi menjadi dua kelompok besar: bintara dan bintara tinggi. Semuanya diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 3 Tahun 2016 tentang Administrasi Kepangkatan Polri, yang berlaku sama untuk seluruh kesatuan. Secara berurutan, dari yang paling rendah sampai paling tinggi, pangkat bintara Brimob adalah: Brigadir Polisi Dua (Bripda), Brigadir Polisi Satu (Briptu), Brigadir Polisi (Brigpol), Brigadir Polisi Kepala (Bripka), Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda), dan Ajun Inspektur Polisi Satu (Aiptu). Walaupun sama-sama bintara, *peran dan tingkat tanggung jawab tiap pangkat sangat berbeda*. 1. Brigadir Polisi Dua (Bripda): Gerbang Awal Karier Bintara Brimob Untuk jalur bintara Brimob, setelah lulus pendidikan selama kurang lebih lima bulan, kamu akan dilantik dengan pangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda). Ini adalah pangkat bintara paling dasar. Lambangnya berupa satu balok panah perak di pundak. Di sinilah perjalanan kariermu sebagai anggota Brimob dimulai. Sebagai Bripda, kamu adalah pelaksana operasional dasar. Artinya, kamu akan banyak bertugas di garis depan, mengikuti tugas satuan, melaksanakan perintah komandan regu atau atasan bintara lain, dan belajar memahami taktik serta prosedur lapangan Brimob secara langsung. Pada tahap ini, fokus utamamu adalah membentuk jam terbang, disiplin, dan kemampuan teknis. Jangan anggap enteng pangkat pertama ini. Banyak hal yang akan menentukan kecepatan dan kelancaran kariermu ditentukan saat kamu masih Bripda. Penilaian atasan, catatan pelanggaran atau prestasi, kedisiplinan, hingga kemampuan kerja sama tim diukur sejak sekarang. Jika kamu sejak awal membangun reputasi bagus, proses pengusulan kenaikan pangkat akan jauh lebih mulus. Secara psikologis, momen menjadi Bripda juga sering menjadi *“titik kejut”*. Peralihan dari dunia pendidikan menjadi dunia tugas bisa terasa sangat kontras, terutama di satuan sekeras Brimob. Pola pikir yang tepat di sini adalah melihat Bripda sebagai masa belajar intensif, bukan sekadar pangkat rendah. 2. Brigadir Polisi Satu (Briptu): Pelaksana Operasional Harian yang Lebih Matang Setelah memenuhi Masa Dinas Di Pangkat (MDDP) sebagai Bripda dan memenuhi syarat administrasi, kamu berpeluang naik menjadi Brigadir Polisi Satu (Briptu) dengan lambang dua balok panah perak. Pada titik ini, kamu masih merupakan pelaksana operasional, tetapi secara umum diharapkan sudah lebih mandiri dan matang dalam bertugas dibanding saat masih Bripda. Bintara Brimob dengan pangkat Briptu mulai dipercaya menjalankan penugasan dengan supervisi yang tidak sedekat sebelumnya. Kamu diharapkan paham SOP, mampu menilai situasi lapangan, dan tidak lagi sering melakukan kesalahan-kesalahan dasar. Dalam banyak regu, Briptu sering menjadi tulang punggung pelaksanaan tugas, karena mereka sudah punya pengalaman, tetapi masih dalam usia yang relatif muda dan fisik sangat prima. Kekuatan utama di pangkat ini adalah kombinasi antara energi dan pengalaman. Jika kamu memanfaatkannya dengan maksimal, ini adalah fase ideal untuk mengejar prestasi, mengukir jejak positif di satuan, dan mempersiapkan diri menuju pangkat brigadir yang lebih tinggi. 3. Brigadir Polisi (Brigpol): Penjaga Konsistensi Tugas Regu Naik lagi, kamu akan sampai pada Brigadir Polisi (Brigpol) dengan lambang tiga balok panah perak. Secara formal, Brigpol masih masuk kategori bintara, tetapi dari sisi tanggung jawab sudah mulai mengarah pada fungsi pengawasan. Brigpol biasanya dituntut memastikan tugas anggota di bawahnya tertib, konsisten, dan sesuai standar yang telah ditetapkan. Pada jenjang ini, kamu tidak lagi hanya berpikir bagaimana menjalankan perintah, tetapi

JadiPOLISI merupakan lembaga bimbel online untuk membantu persiapan berbagai seleksi penerimaan POLRI

Hubungi Kami

Kamu butuh bantuan? Tim kami siap membantu. Hubungi sekarang dibawah ini.

Copyright 2026 © All Right Reserved by JadiCASIS / JadiPOLISI