tes buta warna polisi adalah salah satu bagian paling krusial dalam rangkaian pemeriksaan kesehatan (Rikkes) seleksi penerimaan anggota Polri yang sering diremehkan calon siswa (Casis). Banyak yang sibuk latihan lari, push-up, dan hafalan akademik, tetapi lupa bahwa satu hal kecil di mata—kemampuan membedakan warna—bisa langsung membuat statusmu berubah dari “berpeluang lulus” menjadi “TMS (Tidak Memenuhi Syarat)” dalam hitungan menit. Di tengah persaingan seleksi Polri yang makin ketat, memahami seluk-beluk tes buta warna polisi bukan lagi pilihan, tapi keharusan kalau kamu tidak mau gugur dengan cara paling menyakitkan: gagal karena sesuatu yang sebenarnya bisa kamu cek jauh sebelum hari H.
Mengapa Tes Buta Warna Polisi Bisa Menjegal Kamu di Rikkes?
Dalam sistem seleksi Polri, kesehatan mata bukan sekadar formalitas. Di Rikkes, penglihatan dinilai dengan kategori Stakes 1 sampai 4. Untuk bisa dinyatakan memenuhi syarat (MS), Casis harus berada di Stakes 1–3. Begitu masuk Stakes 4, statusmu langsung TMS. Nah, buta warna—baik parsial maupun total—masuk kategori Stakes 4. Artinya, sekecil apa pun gangguan persepsi warna, kamu otomatis tidak memenuhi syarat untuk menjadi anggota Polri.
Kenapa seketat itu? Karena tugas polisi sangat bergantung pada kemampuan membedakan warna secara akurat. Bayangkan situasi di lapangan:
- Kamu harus mendeskripsikan kendaraan pelaku: “Mobil sedan merah marun, plat hitam…”
- Kamu harus mengidentifikasi tersangka: “Menggunakan jaket hijau tua, celana hitam, sepatu putih…”
- Kamu harus membaca dan merespons lampu lalu lintas, rambu, dan berbagai kode warna di lapangan.
Jika kamu buta warna merah–hijau, misalnya, kamu bisa salah mengidentifikasi warna kendaraan atau pakaian tersangka. Kalau kamu buta warna total, dunia hanya terlihat hitam-putih. Risiko salah identifikasi bukan cuma memengaruhi kinerja, tapi juga bisa membahayakan keselamatan publik dan rekan kerja. Itulah alasan tes buta warna polisi diposisikan sebagai filter keras: kalau tidak lolos, tidak ada kompromi.
Secara medis, buta warna terjadi karena gangguan atau kerusakan pada sel kerucut (cone) di retina yang bertugas menangkap spektrum warna tertentu. Kondisi ini dinilai sama seriusnya dengan gangguan lain seperti strabismus (juling) atau pterigium yang mengganggu fungsi penglihatan, dan semuanya bisa membuat Casis dinyatakan TMS dalam Rikkes Polri.
Jenis Buta Warna yang Bisa Menggagalkan Kamu
Sebelum membahas teknis tes buta warna polisi, kamu perlu paham dulu jenis-jenis buta warna yang biasanya terdeteksi:
- Buta warna total: Kamu hanya melihat dunia dalam gradasi hitam, putih, dan abu-abu. Ini jarang, tapi kalau ada, sudah pasti TMS.
- Buta warna parsial (paling umum):
- Merah–hijau: Sulit membedakan warna merah dengan hijau, atau turunan warnanya (cokelat, oranye, dll.).
- Biru–kuning: Lebih jarang, tapi tetap mengganggu persepsi warna.
Dalam konteks tes buta warna polisi, baik parsial maupun total sama-sama dianggap tidak memenuhi syarat. Jadi, jangan berpikir, “Ah, cuma sedikit kok, cuma merah–hijau saja.” Di mata tim kesehatan Polri, itu tetap Stakes 4.
Tes Buta Warna Polisi: Apa Saja yang Diperiksa dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Tes buta warna polisi biasanya menjadi bagian dari pemeriksaan mata lengkap di Rikkes. Di sesi ini, bukan hanya warna yang dicek, tetapi juga:
- Ketajaman penglihatan jauh dan dekat
- Persepsi kedalaman (depth perception)
- Kondisi anatomi mata (misalnya katarak, pterigium, strabismus)
- Kadang tambahan tes untuk penglihatan malam, terutama bagi yang pernah LASIK/PRK
Namun, fokus di sini adalah tes buta warna polisi. Ada beberapa jenis tes yang umum digunakan secara medis untuk menilai kemampuan persepsi warna.
1. Tes Ishihara: “Kartu Titik-Titik” yang Menentukan Nasibmu
Tes Ishihara adalah jenis tes buta warna yang paling sering digunakan, termasuk dalam konteks seleksi profesi berisiko tinggi seperti polisi, pilot, dan dokter. Bentuknya berupa serangkaian kartu berisi titik-titik berwarna yang membentuk angka atau pola tertentu.
Cara kerjanya:
- Kamu akan diperlihatkan satu per satu kartu dengan pola titik-titik warna.
- Di dalam pola itu, ada angka/huruf yang terbentuk dari kombinasi warna tertentu.
- Orang dengan penglihatan normal bisa membaca angka tersebut dengan jelas.
- Orang dengan buta warna merah–hijau biasanya:
- Tidak bisa melihat angka sama sekali, atau
- Melihat angka yang berbeda dari angka sebenarnya.
Contoh sederhana (bukan kartu asli, hanya ilustrasi konsep):
- Kartu dengan titik hijau dan merah membentuk angka “12”.
- Orang normal: melihat angka “12”.
- Orang dengan buta warna merah–hijau: mungkin melihat “1”, “2”, atau bahkan tidak melihat angka sama sekali.
Dalam tes buta warna polisi, jika kamu gagal membaca sejumlah kartu Ishihara sesuai standar, dokter akan menilai kamu mengalami gangguan persepsi warna. Dan sekali lagi, ini langsung mengarah ke penilaian TMS.
2. Anomaloscope: Tes “Mikroskop Warna” untuk Mengukur Seberapa Parah
Anomaloscope adalah alat khusus yang bentuknya mirip mikroskop kecil. Tes ini lebih teknis dan biasanya digunakan untuk:
- Mengonfirmasi jenis buta warna (terutama merah–hijau)
- Mengukur tingkat keparahan gangguan warna
Cara kerjanya secara garis besar:
- Kamu diminta menyesuaikan campuran dua warna (biasanya merah dan hijau) sampai warnanya cocok dengan warna standar yang ditampilkan.
- Orang dengan penglihatan normal bisa menyesuaikan campuran warna dengan rentang tertentu.
- Orang dengan buta warna merah–hijau akan kesulitan menemukan campuran yang tepat atau butuh komposisi yang tidak normal.
Dalam konteks tes buta warna polisi, anomaloscope bisa digunakan sebagai tes lanjutan jika hasil tes awal (misalnya Ishihara) meragukan atau perlu konfirmasi lebih detail.
3. Tes Farnsworth-Munsell: Mengurutkan Warna dengan Presisi Tinggi
Tes Farnsworth-Munsell biasanya digunakan untuk pekerjaan yang membutuhkan kepekaan warna sangat tinggi, seperti desainer warna, teknisi cat, atau profesi medis tertentu. Namun, secara prinsip, tes ini juga relevan untuk menilai seberapa baik seseorang membedakan gradasi warna.
Konsep dasarnya:
- Kamu diberikan serangkaian kapsul atau lingkaran warna dengan gradasi halus.
- Tugasmu adalah mengurutkan warna-warna tersebut dari satu ujung spektrum ke ujung lainnya.
- Orang dengan penglihatan warna normal bisa mengurutkan dengan benar atau hampir benar.
- Orang dengan buta warna akan membuat pola kesalahan tertentu yang menunjukkan jenis gangguan warna.
Walaupun tes buta warna polisi paling sering diasosiasikan dengan kartu Ishihara, pemahaman tentang berbagai jenis tes ini penting supaya kamu tidak kaget jika di fasilitas kesehatan tertentu digunakan metode tambahan.
Kapan dan Di Mana Tes Buta Warna Polisi Dilakukan?
Dalam alur seleksi Polri, tes buta warna polisi dilakukan sebagai bagian dari Rikkes (pemeriksaan kesehatan). Di tahap ini, kamu tidak hanya dicek warna mata, tetapi juga:
- Tekanan darah
- Jantung dan paru-paru
- Gigi dan mulut
- Telinga, hidung, tenggorokan
- Organ reproduksi (misalnya varikokel pada laki-laki)
- Kulit, tulang, dan lain-lain
Tes penglihatan, termasuk tes buta warna polisi, biasanya dilakukan di ruangan khusus dengan penerangan yang cukup. Ini penting, karena pencahayaan yang kurang bisa memengaruhi hasil tes warna. Pemeriksaan mata juga bisa mencakup:
- Ketajaman visual dengan Snellen chart (huruf-huruf besar-kecil)
- Pemeriksaan penyakit mata seperti katarak, pterigium, atau kelainan retina
- Bagi calon yang pernah menjalani LASIK/PRK, bisa ada tes tambahan seperti penglihatan malam (night vision) untuk memastikan tidak ada efek samping yang mengganggu tugas kepolisian.
Tes buta warna sendiri sebenarnya bisa dilakukan sejak usia balita jika orang tua mencurigai adanya gangguan. Namun, banyak Casis baru menyadari masalah ini saat sudah mendaftar seleksi Polri—dan di sinilah tragedi sering terjadi: baru tahu buta warna ketika sudah di depan meja dokter.
Dampak Tes Buta Warna Polisi Terhadap Karier dan Masa Depanmu

tes buta warna polisi bukan hanya soal lulus atau tidak lulus seleksi. Lebih dari itu, tes ini:
- Membantumu memilih jalur karier yang realistis
Jika kamu terdeteksi buta warna, kamu bisa menghindari profesi yang sangat bergantung pada persepsi warna seperti polisi, pilot, atau beberapa bidang kedokteran. Ini mencegah kamu memaksakan diri pada jalur yang sejak awal memang tidak memungkinkan. - Mendeteksi gangguan kesehatan lain
Gangguan persepsi warna tidak selalu bawaan lahir. Dalam beberapa kasus, perubahan kemampuan melihat warna bisa terkait dengan:- Diabetes
- Penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer atau Parkinson
- Kerusakan retina akibat penyakit tertentu
Jadi, tes buta warna polisi juga bisa menjadi pintu masuk untuk mendeteksi masalah kesehatan yang lebih besar.
- Menjadi “penghalang mutlak” dalam seleksi TNI/Polri
Dalam konteks seleksi Polri dan TNI, buta warna—baik parsial maupun total—dianggap sebagai penurunan fungsi sel retina yang tidak bisa ditoleransi. Calon dengan kondisi ini akan langsung dinyatakan TMS. Tidak ada remedial, tidak ada dispensasi. - Menentukan status Stakes dalam Rikkes
Seperti disebutkan sebelumnya, hanya Casis dengan penglihatan yang masuk kategori Stakes 1–3 yang bisa dinyatakan memenuhi syarat. Begitu buta warna terdeteksi dan dinilai sebagai Stakes 4, statusmu otomatis TMS, sama seperti jika kamu memiliki strabismus berat atau pterigium yang mengganggu penglihatan.
Di titik ini, banyak Casis yang baru sadar: “Andai saja aku cek dari dulu, aku tidak akan buang waktu dan tenaga sejauh ini.” Karena itu, sebelum kamu terlalu jauh berinvestasi di latihan fisik dan akademik, ada baiknya kamu memastikan dulu kondisi matamu. Di sinilah biasanya bimbingan belajar dan platform persiapan seleksi Casis Polisi yang profesional akan mengingatkan: jangan hanya fokus di soal dan fisik, tapi juga cek kesehatan sejak awal.
Dan kalau kamu ingin pendampingan yang bukan cuma ngasih materi, tapi juga mengingatkan hal-hal krusial seperti tes buta warna polisi dan strategi menghadapi Rikkes, di sinilah peran bimbingan belajar online dan tryout khusus Casis Polisi jadi sangat penting untuk kamu pertimbangkan sejak sekarang.
“Rahasia” yang Sering Menjebak: Salah Paham tentang Tes Buta Warna Polisi
Banyak Casis datang ke Rikkes dengan beberapa miskonsepsi yang berbahaya. Berikut beberapa di antaranya yang perlu kamu luruskan sekarang juga.
1. “Aku Nggak Pernah Ngerasa Aneh, Berarti Nggak Buta Warna”
Ini salah satu jebakan paling umum. Banyak orang dengan buta warna parsial tidak menyadari kondisinya karena:
- Sejak kecil, mereka sudah terbiasa dengan cara melihat yang “berbeda”.
- Lingkungan tidak pernah menguji mereka secara spesifik soal warna.
- Mereka jarang berada dalam situasi yang menuntut identifikasi warna presisi.
Akibatnya, mereka baru sadar saat menjalani tes buta warna polisi. Dan ketika itu terjadi, sudah terlambat untuk seleksi kali ini.
2. “Buta Warna Bisa Disembuhkan dengan Obat atau Latihan”
Secara medis, buta warna bawaan (genetik) tidak bisa disembuhkan dengan obat, suplemen, atau latihan mata. Ini bukan masalah otot mata yang lemah, tapi masalah pada sel kerucut di retina yang memang tidak berfungsi normal. Sampai saat ini, belum ada terapi standar yang bisa mengembalikan fungsi tersebut secara penuh.
Ada kacamata atau lensa khusus yang diklaim bisa membantu penderita buta warna membedakan warna dengan lebih baik, tetapi:
- Efeknya tidak mengubah kondisi dasar retina.
- Dalam konteks tes buta warna polisi, penggunaan alat bantu seperti ini tidak akan diizinkan saat tes.
Jadi, jangan tertipu janji “obat instan” atau “latihan 7 hari sembuh buta warna”. Untuk seleksi Polri, yang dinilai adalah kondisi asli matamu tanpa alat bantu khusus warna.
3. “Kalau Cuma Parsial, Masih Bisa Ditoleransi Kan?”
Dalam beberapa profesi, buta warna parsial mungkin masih bisa ditoleransi dengan penyesuaian. Namun, dalam konteks tes buta warna polisi, standar yang digunakan ketat: bebas dari buta warna parsial maupun total. Artinya, sekecil apa pun gangguan persepsi warna tetap dinilai TMS.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan Sekarang? Langkah Praktis Sebelum Hari H Rikkes
Walaupun buta warna bawaan tidak bisa “diperbaiki” secara medis, ada beberapa langkah realistis dan aman yang bisa kamu lakukan sebelum menghadapi tes buta warna polisi, supaya kamu tidak menyesal di hari H.
1. Cek Dini di Dokter Mata atau Klinik Tepercaya
Jangan tunggu sampai pengumuman jadwal Rikkes keluar. Segera:
- Datang ke dokter mata atau klinik yang menyediakan tes buta warna (minimal tes Ishihara).
- Minta pemeriksaan lengkap: ketajaman visual, buta warna, dan kondisi retina.
- Tanyakan secara jujur: “Apakah kondisi mata saya memenuhi standar untuk profesi seperti polisi?”
Dengan begitu, kamu:
- Tahu posisi sejak awal.
- Bisa memutuskan apakah tetap lanjut mengejar Polri atau mengalihkan target ke jalur lain.
- Tidak buang waktu bertahun-tahun untuk sesuatu yang secara medis memang tidak memungkinkan.
2. Hindari “Trik Curang” yang Berbahaya dan Tidak Berguna
Karena panik, beberapa calon mencoba:
- Menghafal pola kartu Ishihara dari internet.
- Mengatur pencahayaan ruangan secara ekstrem.
- Menggunakan filter warna di kacamata atau layar.
Masalahnya:
- Kartu Ishihara yang digunakan di fasilitas resmi bisa berbeda seri dengan yang kamu hafal.
- Dokter sudah sangat berpengalaman mengenali usaha manipulasi.
- Dalam seleksi Polri, kejujuran dan integritas juga dinilai. Kalau kamu ketahuan mencoba curang, risikonya bukan hanya TMS, tapi juga catatan buruk.
Ingat: tes buta warna polisi bukan soal “pintar mengakali”, tapi soal apakah kamu benar-benar aman dan layak menjalankan tugas di lapangan.
3. Jaga Kesehatan Mata Secara Umum
Untuk kamu yang tidak buta warna, tapi ingin memastikan mata tetap prima sampai hari H:
- Hindari begadang berlebihan menjelang tes.
- Kurangi paparan layar gadget terlalu lama tanpa istirahat.
- Konsumsi makanan bergizi yang baik untuk mata (sayuran hijau, buah berwarna, ikan).
- Jika punya keluhan seperti mata sering merah, perih, atau pandangan kabur, segera periksa dan obati jauh sebelum jadwal Rikkes.
Ini tidak akan mengubah hasil tes buta warna kalau kamu memang buta warna, tapi sangat membantu menjaga aspek lain dari pemeriksaan mata yang juga dinilai.
Konteks Lebih Luas: Tes Buta Warna Polisi dan Seleksi Profesi Berisiko Tinggi
Tes buta warna tidak hanya digunakan di seleksi Polri. Profesi lain yang juga sering mensyaratkan penglihatan warna normal antara lain:
- Pilot
- Beberapa spesialisasi dokter (misalnya patologi, dermatologi)
- Teknisi listrik tertentu
- Operator alat berat tertentu
Mengapa? Karena di profesi-profesi ini, salah membaca warna bisa berakibat fatal: salah kabel listrik, salah interpretasi hasil lab, salah membaca sinyal, dan sebagainya. Polisi termasuk dalam kategori profesi berisiko tinggi karena:
- Harus cepat mengidentifikasi warna kendaraan, pakaian, dan tanda-tanda di lapangan.
- Harus bisa membaca kode warna pada peta, diagram, atau sistem tertentu.
- Harus bisa bekerja dalam kondisi pencahayaan yang berubah-ubah, di mana perbedaan warna menjadi sangat penting.
Tes buta warna polisi, dengan demikian, bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari sistem keselamatan publik. Negara tidak bisa mengambil risiko menempatkan petugas yang tidak mampu membedakan warna dengan akurat di garis depan.
Apa yang Terjadi Jika Kamu Ternyata Buta Warna?
Ini bagian yang paling berat, tapi harus dibahas dengan jujur. Jika setelah tes buta warna polisi kamu dinyatakan buta warna (parsial atau total), maka:
- Statusmu di Rikkes akan dinilai TMS untuk aspek penglihatan warna.
- Kamu tidak akan bisa melanjutkan seleksi Polri, meskipun nilai akademik, psikologi, dan fisikmu sangat bagus.
- Tidak ada “banding” medis untuk mengubah fakta bahwa sel kerucut di retina tidak berfungsi normal.
Namun, ini bukan akhir dari segalanya. Justru:
- Kamu jadi tahu kondisi sebenarnya lebih awal.
- Kamu bisa mengalihkan energi dan disiplin yang sudah kamu bangun ke jalur karier lain yang tidak mensyaratkan penglihatan warna normal.
- Kamu tetap bisa mengabdi pada masyarakat lewat profesi lain: guru, tenaga kesehatan non-klinis tertentu, analis data, pengusaha, dan sebagainya.
Yang penting, jangan terjebak di penyesalan berkepanjangan. Tes buta warna polisi memang keras, tapi tujuannya bukan untuk menghancurkan mimpimu, melainkan memastikan keselamatan dan profesionalisme di lapangan.
Menjadi Casis Polri berarti kamu sudah memilih jalan yang tidak mudah. tes buta warna polisi hanyalah satu dari sekian banyak gerbang yang harus kamu lewati, tetapi sering kali inilah gerbang yang paling mengejutkan karena banyak yang tidak mempersiapkan diri. Jangan tunggu sampai hari H baru sadar ada masalah di mata. Segera cek kondisi penglihatanmu, pahami standar yang berlaku, dan susun strategi dengan kepala dingin. Kalau kamu memang memenuhi syarat, maksimalkan persiapan fisik, akademik, dan mentalmu. Kalau ternyata kamu buta warna, izinkan dirimu berbelok tanpa merasa kalah—karena kemenangan sejati adalah ketika kamu berani jujur pada kondisi diri dan tetap melangkah maju. Apa pun hasilnya, disiplin, niat baik, dan kerja keras yang kamu bangun dalam proses ini tidak akan pernah sia-sia.
Baca Juga : pembukaan polri 2026 bulan apa Buat Casis Serius Wajib Tahu Jadwal Aslinya!
Sumber Referensi
- SILCLASIKCENTER.COM – Kriteria Penglihatan yang Harus Dipenuhi Saat Tes Mata Polri
- PUSDOKKES.POLRI.GO.ID – Pemeriksaan Kesehatan
- ALODOKTER.COM – Tes Buta Warna, Ketahui Manfaat, Jenis, dan Cara Melakukannya
- HALODOC.COM – Sering Dilakukan, Mengapa Tes Buta Warna Penting?
- TARUNAADAMHAWA.ID – Tes Buta Warna untuk Tes TNI POLRI 2023
Testimoni jadiPOLISI


Program Premium Tes POLRI di Bimbel jadiPOLISI
“Kami Bantu, Kami Pandu, Kami Bimbing Sampai Amazing!” 🌟


📋 Cara Membeli dengan Mudah:
- Unduh Aplikasi JadiPOLISI: Temukan aplikasi JadiPOLISI di Play Store atau App Store, atau akses langsung melalui website.
- Masuk ke Akun Anda: Login ke akun JadiPOLISI Anda melalui aplikasi atau situs web.
- Pilih Paket yang Cocok: Dalam menu “Beli”, pilih paket bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Pastikan untuk melihat detail setiap paket.
- Gunakan Kode Promo: Masukkan kode “BIMBELPOLRI” untuk mendapat diskon spesial sesuai poster promo
- Gunakan Kode Afiliasi: Jika Anda memiliki kode “RES55”, masukkan untuk diskon tambahan.
- Selesaikan Pembayaran: Pilih metode pembayaran dan selesaikan transaksi dengan aman.
- Aktivasi Cepat: Paket Anda akan aktif dalam waktu singkat setelah pembayaran berhasil.
